Beranda

Strategi Baru Admin Brand di Threads: Membangun Engagement Lewat Interaksi Saling Mengoceh

Bagikan ke

Dalam membangun engagement, brand bisnis sering menggunakan pendekatan yang kaku seperti promosi produk secara terus-menerus, penggunaan bahasa formal, hingga konten yang terlalu fokus pada penjualan. Strategi tersebut memang dapat membantu memperkenalkan produk, tetapi sering kali membuat interaksi terasa satu arah dan kurang menarik bagi audiens. Akibatnya, banyak konsumen hanya melihat akun bisnis sebagai tempat berjualan tanpa merasa memiliki kedekatan dengan brand tersebut. Di tengah persaingan media sosial yang semakin ramai, pendekatan seperti ini mulai dianggap kurang efektif untuk mempertahankan perhatian pengguna.



Namun sekarang beberapa brand mulai aktif di media sosial dengan pendekatan yang lebih santai dan interaktif, khususnya di Threads. Banyak admin brand mulai ikut bercanda, membalas posting pengguna, hingga meramaikan tren yang sedang viral. Pendekatan tersebut membuat brand terasa lebih dekat dengan audiens dan memicu rasa penasaran konsumen terhadap bisnis tersebut. Selain membantu meningkatkan engagement, strategi ini juga dinilai lebih efisien karena brand dapat menjangkau lebih banyak pengguna secara organik tanpa harus terlalu bergantung pada iklan berbayar.

Artikel ini akan membahas strategi baru admin brand dalam membangun engagement melalui interaksi santai di media sosial. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana pendekatan komunikasi yang lebih natural dapat membantu brand terasa lebih dekat dengan audiens. Berdasarkan postingan dari sosial media aksorotrainingcenter, berikut beberapa hal yang membuat strategi ini dapat membangun engagement bisnis.

1. Parasocial Relationship Theory

Parasocial relationship dapat membantu brand membangun kedekatan emosional dengan audiens melalui interaksi yang konsisten di media sosial. Kedekatan tersebut membuat audiens merasa lebih familiar terhadap sebuah brand sehingga akun bisnis menjadi lebih mudah diingat. Hubungan emosional ini juga dapat meningkatkan rasa penasaran audiens untuk terus mengikuti aktivitas maupun konten yang dibagikan brand secara sukarela. Semakin kuat koneksi yang terbentuk, semakin besar pula peluang dan loyalitas audiens untuk terlibat dalam interaksi yang dibuat brand.

2. Brand Humanization

Brand humanization membantu bisnis membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens melalui gaya komunikasi yang terasa lebih manusiawi. Pendekatan ini membuat brand tidak lagi terlihat kaku seperti akun perusahaan pada umumnya, tetapi lebih ramah, aktif, dan mampu berinteraksi layaknya manusia. Ketika brand dapat menunjukkan sisi yang relatable dan natural, audiens biasanya akan merasa lebih mudah connect dengan bisnis tersebut. Hal ini membuat interaksi terasa lebih hangat sehingga hubungan antara brand dan konsumen dapat terbangun dengan lebih kuat.

3. Two-Way Symmetrical Communication

Two-way symmetrical communication membuat proses komunikasi antara brand dan audiens berjalan secara dua arah, bukan sekadar menyampaikan pesan promosi. Menurut James E. Grunig dan Todd Hunt, pola seperti yang banyak terlihat di Threads merupakan bentuk komunikasi dua arah simetris yang bertujuan menciptakan mutual understanding. Dalam proses ini, brand dan konsumen sama-sama dapat berkembang melalui dialog yang terjalin. Grunig sendiri telah lama menjelaskan bahwa banyak brand masih menggunakan media digital hanya untuk menyebarkan pesan, padahal media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk membangun percakapan. Melalui interaksi aktif seperti ini, brand dapat lebih memahami kebutuhan audiens sekaligus membangun engagement yang lebih kuat dan relevan.

Baca Panduan: Strategi Humanis atau Blunder? Risiko Admin Brand Terlalu Santai di Media Sosial

Kesimpulan

Melalui pendekatan komunikasi yang lebih santai dan interaktif, brand kini tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens. Kehadiran admin brand yang aktif bercanda, ikut tren, hingga membalas posting pengguna membuat akun bisnis terasa lebih hidup dan relevan di media sosial. Strategi seperti ini juga membantu brand membangun engagement secara lebih organik karena audiens merasa nyaman untuk ikut berinteraksi tanpa merasa sedang melihat promosi secara langsung.

Selain itu, pendekatan seperti parasocial relationship, brand humanization, dan two-way symmetrical communication menunjukkan bahwa engagement tidak hanya dibangun melalui konten, tetapi juga melalui percakapan yang konsisten dengan audiens. Ketika brand mampu terlihat lebih manusiawi dan membuka ruang dialog, hubungan dengan konsumen dapat terjalin lebih kuat dan loyalitas audiens pun berpotensi meningkat. Oleh karena itu, media sosial saat ini bukan hanya menjadi tempat untuk menyebarkan informasi, tetapi juga sarana bagi brand untuk membangun koneksi yang lebih personal dengan konsumennya.

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI

Bagikan ke