Beranda

5 Rasio Keuangan yang Bisa Membantu Seller Terhindar dari Kebangkrutan

Bagikan ke

Rasio keuangan dapat menjadi salah satu alat yang membantu seller mendeteksi tanda-tanda masalah keuangan sebelum berkembang menjadi risiko yang lebih besar. Banyak bisnis mengalami kesulitan bukan karena kurangnya penjualan, melainkan akibat arus kas yang tidak terkelola dengan baik, biaya operasional yang membengkak, atau tingginya beban kewajiban. Dengan memahami kondisi keuangan melalui berbagai rasio, seller dapat mengambil langkah perbaikan lebih cepat dan tepat.

Memantau kesehatan bisnis secara berkala juga membantu seller mengetahui apakah operasional usaha masih berjalan secara efisien dan berkelanjutan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam mengambil keputusan terkait pengeluaran, pengelolaan piutang, hingga strategi pengembangan bisnis. Oleh karena itu, penting bagi seller untuk memahami beberapa rasio keuangan yang sering digunakan sebagai indikator kesehatan usaha.

Artikel ini akan membahas lima rasio keuangan penting untuk bisnis. Tujuannya agar seller dapat mengevaluasi kesehatan keuangan usahanya dengan lebih baik.

1. Interest Coverage Ratio

Interest Coverage Ratio (ICR) merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga atas pinjaman yang masih dimiliki. Menurut situs Stockbit, rasio ini idealnya berada di atas 2 kali, sedangkan banyak investor lebih menyukai perusahaan dengan ICR minimal 3 kali karena menunjukkan kemampuan pembayaran bunga yang lebih aman. Kondisi tersebut penting diperhatikan oleh seller agar bisnis terlihat lebih sehat, andal, dan konsisten dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Selain itu, berdasarkan konten media sosial surbaktysharing, kemampuan membayar bunga saja tidak cukup. Seller juga perlu memperhatikan ketepatan waktu pembayaran karena pembayaran yang selalu dilakukan mendekati jatuh tempo dapat menjadi tanda adanya tekanan pada arus kas bisnis.

Berikut rumus perhitungan Interest Coverage Ratio

InterestCoverage=EBITBebanBungaInterest\;Coverage = \frac{EBIT} {Beban\;Bunga}

2. Perputaran Piutang (Receivable Turnover)

Berdasarkan situs Mekasi Jurnal, rasio keuangan ini merupakan metrik yang digunakan untuk mengukur seberapa efisien perusahaan mengelola piutang hingga berubah menjadi kas. Semakin tinggi nilai rasio ini, semakin efektif perusahaan dalam memberikan kredit kepada pelanggan sekaligus menagih pembayaran yang jatuh tempo. Sementara itu, menurut konten media sosial surbaktysharing, rata-rata waktu pencairan piutang idealnya tidak lebih dari 45 hari atau bahkan lebih cepat. Jika rata-rata waktu pencairan melebihi 45 hari, seller perlu melakukan evaluasi terhadap sistem penagihan, kebijakan kredit, maupun arus kas bisnis yang dijalankan.

Berikut rumus perhitungan Receivable Turnover

ReceivableTurnover=PenjualanKreditRataRataPiutangReceivable\;Turnover = \frac{Penjualan\;Kredit} {Rata-Rata\;Piutang}

3. Operating Expense Ratio

Pengukuran kondisi keuangan perusahaan perlu dilakukan untuk mengetahui besarnya beban operasional yang ditanggung bisnis. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Operating Expense Ratio (OER), yaitu rasio keuangan yang membandingkan total biaya operasional dengan pendapatan yang diperoleh dari penjualan, dikutip dari situs Investopedia. Melalui rasio ini, seller dapat menilai seberapa efisien bisnis dalam mengelola pengeluaran operasionalnya. Menurut konten media sosial surbaktysharing, apabila nilai rasio ini terlalu tinggi di angka 30% hingga 40%, seller perlu mengevaluasi pengeluaran operasional, memangkas biaya yang kurang efektif, serta mempertimbangkan otomatisasi pada pekerjaan yang bersifat repetitif agar operasional bisnis menjadi lebih efisien.

Berikut rumus perhitungan Operating Expense Ratio

OperatingExpRatio=BiayaOperationalPenjualanOperating\;Exp\;Ratio= \frac{Biaya\;Operational} {Penjualan}

4. Cash Conversion Cycle (CCC)

Berdasarkan situs Paper, Cash Conversion Cycle (CCC) merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur waktu yang dibutuhkan perusahaan dalam mengubah modal kerja menjadi kas. Perhitungan ini mencakup seluruh proses, mulai dari pembayaran kepada supplier untuk memperoleh persediaan hingga perusahaan menerima pembayaran dari pelanggan. Melalui rasio ini, seller dapat memperoleh gambaran mengenai efisiensi operasional dan pengelolaan arus kas bisnis. Selain itu, menurut konten media sosial surbaktysharing, perusahaan dapat dikatakan sehat apabila nilai CCC berada di bawah 30 hari. Seller perlu mulai waspada jika nilainya berada pada kisaran 30–60 hari, sedangkan angka 60–90 hari dapat menjadi tanda adanya masalah yang perlu segera dievaluasi karena menunjukkan perputaran kas yang semakin lambat.

Berikut rumus perhitungan CCC

CCC=DIO+DSO+DPOCCC = DIO+DSO+DPO

Keterangan:

  • Days of Inventory Outstanding (DIO), mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menjual persediaan.
  • Days Sales Outstanding (DSO), mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menerima pembayaran dari pelanggan.
  • Days Payable Outstanding (DPO), mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membayar tagihan kepada supplier atau vendor.

5. Rasio Keuangan Quick Ratio

Berdasarkan situs Gotrade, Quick Ratio merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Perhitungan rasio ini menggunakan aset yang paling likuid, seperti kas, piutang, dan surat berharga. Secara umum, nilai Quick Ratio dapat dikategorikan ke dalam tiga kondisi yang menunjukkan tingkat likuiditas perusahaan yang berbeda.

  • Quick ratio > 1, Aset likuid lebih besar daripada kewajiban jangka pendek.
  • Quick ratio = 1, Aset likuid seimbang dengan kewajiban jangka pendek.
  • Quick ratio < 1, Aset likuid belum cukup untuk menutupi kewajiban jangka pendek.

Berikut rumus perhitungan Quick Ratio

QuickRatio=Kas+Efek/SuratBerharga+PiutangUtangLancarQuick\;Ratio = \frac{Kas+Efek/Surat\;Berharga+Piutang} {Utang\;Lancar}

Kesimpulan

Memahami dan memantau rasio keuangan secara rutin dapat membantu seller mengetahui kondisi bisnis secara lebih objektif. Berbagai indikator tersebut memberikan gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban, mengelola piutang, mengendalikan biaya operasional, mempercepat perputaran kas, hingga menjaga likuiditas usaha. Dengan mengetahui kondisi keuangan lebih awal, seller dapat mengambil langkah perbaikan sebelum masalah berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

Selain digunakan sebagai alat evaluasi, rasio keuangan juga dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi bisnis yang lebih tepat dan berkelanjutan. Seller dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kesehatan arus kas, serta memperkuat stabilitas keuangan perusahaan. Oleh karena itu, melakukan pemantauan rasio keuangan secara berkala menjadi langkah penting agar bisnis tetap sehat, berkembang, dan terhindar dari potensi kebangkrutan.

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI

Bagikan ke