Brand Menantea milik Jerome Polin sempat menjadi perbincangan besar di media sosial. Banyak orang membahas sisi viralnya, kontroversinya, hingga dampaknya terhadap citra brand. Namun di balik itu, ada banyak insight marketing yang menarik untuk dipelajari, terutama bagi seller dan pebisnis yang sedang membangun brand di era digital.
Kasus Menantea milik Jerome Polin menunjukkan bahwa dalam dunia bisnis modern, produk saja tidak cukup. Cara membangun hubungan dengan audiens, membuat brand terasa relateable, hingga menjaga hubungan dengan followers punya pengaruh besar terhadap perkembangan bisnis.
Personal Branding Jadi Kekuatan Besar
Salah satu alasan Menantea cepat dikenal tentu karena pengaruh personal branding Jerome Polin. Sebelum bisnis ini hadir, Jerome sudah memiliki audiens loyal dari konten YouTube dan media sosialnya. Ketika Menantea diluncurkan, proses awarness menjadi jauh lebih cepat dibanding brand baru pada umumnya.
Hal ini menjadi insight marketing penting untuk seller: orang lebih mudah percaya pada brand yang memiliki “wajah” di belakangnya.
Insight Marketing: Nama Menu Bisa Jadi Strategi Branding
Hal kecil yang sering dianggap sepele justru menjadi salah satu kekuatan Menantea: penamaan menu. Strategi ini membuat brand terasa lebih dekat dengan audiens muda.
Nama seperti:
- Mantappu Jiwa
- MatemaTEAka
- Cheezo Team
- Atau nama lainnya yang bernuasa inside jokes.
Banyak orang akhirnya bukan cuma membeli minuman, tetapi juga ikut menikmati pengalaman dan “bahasa” yang dibangun brand tersebut. Ini adalah insight pemasaran yang menarik karena branding tidak harus selalu rumit atau formal. Kadang hal sederhana seperti nama produk bisa membuat konsumen lebih mudah mengingat brand.
Selain mudah diingat, startegi seperti ini juga punya potensi besar untuk dibagikan ulang di media sosial. Orang cenderung senang mengabadikan foto atau membicarakan sesuatu yang unik dan relateable. Detail kecil seperti ini dalam branding punya pengaruh besar terhadap engagement.
Viral Tidak Selalu Aman
Banyak bisnis sekarang berlomba-lomba membuat konten viral. Visibilitas memang bisa membantu brand mendapat exposure besar dalam waktu singkat. Namun, brand milik Jerome Polin ini juga memperlihatkan sisi lain dari viral marketing.
Semakin ramai sebuah brand dibicarakan, semakin tinggi juga ekspektasi publik terhadap kualitas produk dan pelayanan. Saat ekspektasi tidak sesuai, kritik akan datang jauh lebih cepat. Karena itu, seller perlu memahami bahwa marketing bukan hanya soal membuat brand terkenal. Bisnis juga harus siap menghadapi perhatian besar dari publik.
Beberapa hal yang sering terlupakan setelah brand viral:
- Konsumen menjadi lebih kritis
- Kesalahan kecil lebih mudah disorot
- Pelayanan harus lebih siap menghadapi lonjakan pembeli
- Respons brand akan terus diperhatikan publik
Audiens Ingin Merasa Jadi Bagian dari Brand
Hal menarik lainnya dari brand menantea adalah cara mereka membangun hubungan dengan followers sejak awal perkembangan bisnis.
Jerome cukup sering membagikan:
- Proses bisnis
- Pembukaan cabang
- Tantangan operasional
- Momen di balik layar
Tanpa sadar, strategi ini membuat audiens merasa ikut tumbuh bersama brand. Dalam dunia pemasaran modern, pemdekatan seperti ini sering disebut sebagai community-driven marketing. Audiens tidak merasa hanya sebagai pembeli, tetapi seperti bagian dari perjalanan bisnis itu sendiri. Inilah yang membuat engagement brand ini terasa lebih kuat dibanding sekadar brand minuman biasa.
Banyak seller sebenarnya bisa menerapkan strategi sederhana seperti ini, misalnya dengan:
- Membagikan proses produksi
- Menunjukkan aktivitas tim
- Menceritakann tantangan bisnis secara ringan
- Melibatkan followers dalam polling atau ide produk
Konten seperti ini biasanya terasa lebih autentik dibanding promosi yang terlalu fokus jualan.
Popularitas Besar Harus Diimbangi Kepercayaan
Kasus brand menantea juga mengingatkan bahwa popularitas dan kepercayaan adalah dua hal yang berbeda. Brand bisa saja cepat terkenal, tetapi menjaga kepercayaan menjadi faktor penting karena konsumen memiliki banyak pilihan. Cara bisnis merespons kritik sering kali lebih diingat dibanding masalahnya sendiri. Sekali reputasi menurun, audiens bisa dnegan mudah beralih ke brand lain.
Karena itu, seller perlu menjaga konsistensi kualitas produk, pelayanan, dan komunikasi. Jangan sampai strategi marketing terlihat besar di depan, tetapi pengalaman konsumen justru mengecewakan.
Baca Juga: Strategi Viral Marketing Tingkatkan Brand Awarness
Kesimpulan

Di balik ramainya pembahasan tentang Menantea, ada banyak insight marketing yang sebenarnya relevan untuk seller masa kini. Mulai dari personal branding, penamaan produk yang relateable, membangun komunitas, hingga pentingnya menjaga komunikasi dengan audiens. Menantea juga menunjukkan bahwa brand yang dekat dengan konsumennya biasanya akan lebih mudah berkembang. Karena pada akhirnya, orang bukan cuma membeli produk—mereka membeli pengalaman dan koneksi dengan brand tersebut.
Agar strategi viral marketing bisnis Anda berjalan lebih optimal, AutoLaris bisa jadi solusi pendukung untuk mengatur konten, memantau performa, hingga menjalankan promosi otomatis dengan lebih praktis dalam satu dashboard. Tertarik mencoba? Daftar sekarang





