Beranda

Hindari 6 Kesalahan Menentukan Target Market Sebelum Mulai Jualan

Bagikan ke

TARGET MARKET

Target market menjadi salah satu hal penting dalam bisnis online. Banyak pebisnis pemula terlalu fokus mencari produk viral atau membuat konten menarik tanpa memahami siapa calon pembelinya. Akibatnya, promosi terasa tidak tepat sasaran. Views mungkin tinggi, tetapi penjualan tetap sedikit. Iklan juga bisa menjadi boros karena produk ditawarkan ke orang yang sebenarnya tidak membutuhkan.

Memahami target market membantu bisnis lebih mudah menentukan strategi konten, harga, hingga cara promosi yang efektif. Sayangnya, masih banyak pebisnis pemula melakukan kesalahan saat menentukan target market. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi:

1. Menganggap Semua Orang Adalah Target Market

Kesalahan paling umum adalah berpikir bahwa produk bisa dijual ke semua orang. Contohnya, seller skincare mengatakan target marketnya adalah “semua perempuan”. Faktanya, kebutuhan skincare remaja, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga tentu berbeda.

Semakin luas target, promosi biasanya semakin sulit fokus. Lebih baik menentukan market yang lebih spesifik (niche market) seperti:

  • Perempuan usia 18-24 tahun
  • Mahasiswa aktif di media sosial
  • Pekerja kantoran yang suka skincare praktis

Target market yang jelas membuat konten dan promosi terasa lebih relevan dengan calon pembeli.

2. Hanya Ikut Kompetitor Tanpa Memahami Market Sendiri

Banyak pemula melihat toko lain ramai, langsung meniru konsepnya. Mulai dari desain konten, gaya promosi, hingga cara berbicara di mesia sosial. Cara ini memang terlihat mudah, tetapi belum tentu cocok dengan market sendiri.

Contohnya, kompetitor menggunakan gaya bahasa santai dan bercanda karena target market mereka anak sekolah. Jika produk yang dijual lebih cocok untuk pekerja profesional, pendekatan seperti itu bisa terasa kurang tepat. Karena itu, penting memahami target market sendiri sebelum mengikuti strategi bisnis lain.

3. Tidak Melihat Masalah yang Dialami Konsumen

Sebagian pebisnis terlalu fokus menjelaskan fitur produk, tetapi lupa melihat kebutuhan pembeli. Konsumen biasanya membeli produk karena ingin menyelesaikan masalah tertentu.

Contohnya:

  • Orang membeli organizer agar meja lebih rapi
  • Orang membeli tumbler supaya lebih praktis saat beraktivitas
  • Orang membeli skincare untuk mengatasi masalah kulit tertentu

Promosi akan terasa lebih relevan dan meyakinkan jika memahami kebutuhan konsumennya.

4. Salah Memilih Platform Promosi

Setiap target market punya kebiasaan media sosial yang berbeda. Pebisnis pemula sering mempromosikan produk di semua platform tanpa strategi yang jelas. Akibatnya konten kurang maksima karena tidak sesuai dengan audiensnya.

Contohnya:

  • Remaja lebih aktif di TikTok
  • Ibu rumah tangga masih cukup aktif di Facebook dan WhatsApp
  • Pekerja profesional cenderung menyukai konten yang singkat dan informatif di Instagram

Memahami target market juga membantu menentukan platform promosi yang lebih efektif.

5. Tidak Melakukan Riset Sebelum Jualan

Biasanya orang memulai jualan karena produk sedang viral. Mereka tidak mencari tahu apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan market tertentu. Dengan riset sederhana, seller bisa memahami perilaku calon pembeli.

Hal yang perlu diperhatikan:

  • Komentar di TikTok atau Instagram
  • Review marketplace
  • Produk yang sering masuk keranjang
  • Pertanyaan yang sering muncul dari calon pembeli

Dari sini, seller bisa melihat apakah produk memang memiliki peluang atau hanya ramai sesaat.

Baca Juga: Strategi Memilih Produk Viral untuk Jualan Online 2026

6. Tidak Update dengan Perubahan Market

Target market bisa berubah seiring waktu. Kebiasaan konsumen, tren media sosial, hingga gaya hidup terus berkembang. Sayangnya, banyak pebisnis merasa target market mereka akan selalu sama.

Contohnya, dulu orang membeli produk hanya karena harga murah. Sekarang banyak konsumen mulai mempertimbangkan:

  • Desain produk
  • Packaging
  • Pengalaman belanja
  • Kualitas konten
  • Nilai brand

Karena itu, seller perlu terus memperhatikan perubahan perilaku konsumen agar strategi bisnis tetap relevan.

Tips saat mengubah target market:

  1. Lakukan riset sederhana tentang kebutuhan audiens baru
  2. Perbarui strategi konten dan promosi secara bertahap
  3. Coba lakukan soft launching untuk melihat respons market baru terlebih dulu
  4. Perhatikan respons market sebelum mengubah strategi sepenuhnya
  5. Tetap jaga kualitas produk agar customer lama tetap percaya.

Kenapa Memahami Target Market Penting?

Memahami audiens bukan hanya membantu meningkatkan penjualan. Hal ini juga membuat bisnis lebih mudah berkembang dalam jangka panjang. Bisnis juga terasa lebih memiliki arah dibanding hanya ikut tren tanpa strategi.

Saat targetnya sudah jelas, seller bisa:

  • Membuat konten yang lebih tepat sasaran
  • Menentukan harga yang sesuai
  • Memilih produk yang relevan
  • Membuat iklan lebih efektif
  • Membangun customer loyal

Scale Up Niche Market Lebih Praktis

Menentukan target market yang tepat tidak kalah penting dibanding memilih produk yang bagus Saat bisnis memahami kebutuhan dan kebisaan konsumennya, strategi promosi akan lebih mudah tepat sasaran.

Niche market yang spesifik membantu pebisnis pemula lebih mudah dikenal dibanding langsung menarget market yang terlalu luas. Pebisnis pemula perlu terus melakukan riset dan memahami target market agar bisnis bisa berkembang lebih stabil di tengah persaingan online yang semakin ramai.

Saat bisnis mulai berkembang, pengelolaan order juga perlu lebih rapi. Dengan sistem yang tepat seperti AutoLaris, seller bisa lebih fokus scale up niche market tanpa perlu ribet urusan operasional.

Bagikan ke