Beranda

14 Teknik Follow Up Anti Gagal yang Dijamin Bikin Closing

Bagikan ke

14 Teknik Follow Up Anti Gagal yang Dijamin Bikin Closing

Dalam dunia penjualan, proses follow up sering kali menjadi titik kritis yang menentukan apakah calon pelanggan akan benar-benar melakukan pembelian atau justru menghilang tanpa jejak. Banyak penjual yang sudah berhasil menarik minat, namun gagal menutup transaksi karena tidak tahu cara menindaklanjuti prospek dengan benar. Artikel ini akan membedah secara mendalam 14 teknik follow up anti gagal yang bisa Anda terapkan, baik untuk penjualan online, via WhatsApp, email marketing, maupun komunikasi langsung.

1. Follow Up Cepat dalam 24 Jam Setelah Interaksi Awal

Follow up dalam 24 jam pertama setelah interaksi awal bukan sekadar aturan tak tertulis dalam dunia sales—ini adalah momen krusial yang sangat menentukan keberhasilan closing. Mengapa? Karena dalam rentang waktu tersebut, memori pelanggan tentang produk, brand, dan percakapan Anda masih segar. Emosi ketertarikan mereka juga masih tinggi, dan jika tidak dimanfaatkan, maka peluang itu bisa menguap begitu saja.

Mengapa 24 Jam Itu Penting?

Setelah calon pelanggan berinteraksi dengan Anda—baik itu tanya harga, mengisi form, bertanya lewat DM, atau sekadar menunjukkan minat—mereka sedang berada dalam zona pertimbangan aktif. Mereka mungkin sedang membandingkan produk Anda dengan kompetitor, sedang berdiskusi dengan pasangan, atau bahkan hampir siap membeli.

Namun, jika tidak ada follow up dalam waktu cepat, mereka bisa:

  • Lupa
  • Beralih ke penjual lain yang lebih responsif
  • Kehilangan urgensi atau minat
  • Merasa diabaikan dan akhirnya batal

Ingat, kecepatan respons menunjukkan profesionalisme dan komitmen. Banyak studi menyebutkan bahwa prospek yang ditindaklanjuti dalam 24 jam pertama memiliki kemungkinan closing hingga 60% lebih tinggi dibanding yang ditunda lebih dari 48 jam.

Apa yang Harus Disampaikan dalam Follow Up 24 Jam?

Tujuan dari follow up pertama ini bukan langsung menutup penjualan, tapi memastikan bahwa koneksi tetap hidup dan rasa penasaran pelanggan tetap terjaga. Anda bisa menyampaikan hal-hal berikut:

  1. Ucapan terima kasih atas minat mereka
  2. Recap singkat tentang apa yang mereka tanyakan
  3. Tawaran bantuan jika ada pertanyaan lebih lanjut
  4. Nada yang ramah dan tidak memaksa

Contoh skrip follow up yang tepat:

“Halo Kak, terima kasih sudah mampir dan tanya-tanya kemarin soal produk X. Kalau Kakak ada pertanyaan tambahan atau butuh info lain, aku siap bantu ya. Semoga harimu menyenangkan 😊”

Dengan pesan seperti ini, Anda terlihat:

  • Responsif: pelanggan merasa dihargai
  • Profesional: Anda ingat dan menindaklanjuti interaksi
  • Tidak memaksa: memberi ruang agar mereka tetap nyaman

Media Follow Up yang Disarankan

Untuk follow up dalam 24 jam pertama, gunakan media yang cepat dan personal:

  • WhatsApp (terbaik untuk komunikasi langsung dan informal)
  • DM Instagram/Facebook (jika awalnya datang dari media sosial)
  • Email (jika mereka datang melalui landing page/form opt-in)

Jika memungkinkan, sertakan nama pelanggan dan detail produk yang mereka tanyakan agar pesan terasa personal, bukan template massal.

Kesalahan Umum dalam Follow Up 24 Jam

  1. Terlalu cepat dan agresif
    – Misalnya follow up dalam 10 menit dengan hard selling: “Kak, jadi beli atau enggak?” Ini bisa menimbulkan tekanan dan membuat pelanggan kabur.
  2. Template yang tidak personal
    – Jangan kirim pesan umum yang tidak menyebut nama atau tidak relevan dengan produk yang ditanyakan. Pelanggan bisa merasa itu spam.
  3. Tidak menambahkan nilai
    – Sekadar “ping” atau “halo Kak, jadi beli?” tanpa konteks atau penjelasan tambahan tidak akan membuat mereka tertarik kembali.

Tips Tambahan: Follow Up Tapi Jangan Terlihat “Kejar-kejaran”

Kunci follow up sukses adalah membangun komunikasi yang nyaman, bukan menekan. Sampaikan bahwa Anda hadir untuk membantu, bukan hanya sekadar mengejar order.

Contoh pendekatan yang humanis:

“Kak, aku bantu follow up ya untuk produk X yang sempat Kakak tanya kemarin. Kalau ada pertanyaan atau mau diskusi lebih lanjut, aku siap bantu. No pressure ya 😊”

Responsif, ramah, dan empatik adalah kombinasi terbaik dalam follow up pertama ini.

2. Gunakan Pertanyaan Terbuka untuk Menggali Kebutuhan

Dalam proses follow up, banyak penjual terlalu cepat “menyerang” dengan penawaran atau diskon tanpa terlebih dahulu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan calon pembeli. Padahal, kunci closing yang kuat adalah relevansi—dan relevansi hanya bisa muncul jika Anda memahami kebutuhan, masalah, dan keinginan mereka. Di sinilah pentingnya pertanyaan terbuka.

Apa Itu Pertanyaan Terbuka?

Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”, melainkan mengundang jawaban yang lebih panjang, reflektif, dan deskriptif. Tujuannya adalah untuk mendorong calon pembeli berbicara lebih banyak tentang kebutuhan atau kekhawatiran mereka. Dengan begitu, Anda bisa menyesuaikan pendekatan dan penawaran dengan lebih personal dan solutif.

Contoh:

  • ❌ Pertanyaan tertutup: “Kak, jadi mau order sekarang?”
  • ✅ Pertanyaan terbuka: “Kalau boleh tahu, Kakak lagi cari produk ini buat dipakai sendiri atau untuk hadiah?”

Mengapa Pertanyaan Terbuka Sangat Efektif?

  1. Mengubah suasana jadi percakapan, bukan penjualan
    – Pelanggan merasa tidak sedang ditekan, melainkan sedang diajak ngobrol santai.
  2. Memunculkan insight yang bisa Anda tanggapi dengan solusi
    – Misalnya mereka bilang, “Saya lagi cari skincare buat kulit sensitif.” Anda bisa langsung menyesuaikan dengan produk yang cocok dan testimoni relevan.
  3. Membangun trust dan hubungan
    – Ketika Anda menunjukkan bahwa Anda peduli pada kebutuhan mereka, bukan hanya ingin menjual, calon pembeli jadi lebih nyaman dan terbuka.
  4. Mencegah salah tawar produk
    – Terlalu cepat menawarkan bisa berisiko. Bisa jadi pelanggan punya preferensi khusus yang tidak Anda ketahui jika tidak bertanya dulu.

Contoh Pertanyaan Terbuka dalam Follow Up

  • “Apa yang paling Kakak cari dari produk ini?”
  • “Kalau boleh tahu, Kakak pernah coba produk sejenis sebelumnya?”
  • “Apakah Kakak punya pertimbangan tertentu sebelum beli?”
  • “Kira-kira ada hal yang masih bikin Kakak ragu untuk ambil sekarang?”
  • “Produk seperti apa sih yang menurut Kakak paling cocok untuk kebutuhan Kakak sekarang?”

Strategi Bertanya: Jangan Seperti Interogasi

Meskipun pertanyaan terbuka sangat penting, Anda juga harus menjaga nada dan jumlahnya. Jangan bertanya seperti sedang menyelidiki atau menyusun kuesioner. Gunakan gaya bertanya yang hangat, santai, dan empatik.

Contoh skrip follow up:

“Hai Kak, semoga harinya menyenangkan ya! Aku bantu follow up produk yang kemarin Kakak tanyain. Kalau boleh tahu, Kakak nyari produk ini buat penggunaan harian atau ada acara khusus?”

Setelah mereka menjawab, Anda bisa merespons dengan penawaran yang sesuai konteks. Ini yang membuat Anda berbeda dari penjual lain: personal, solutif, dan peduli.

Gabungkan dengan Observasi Awal

Jika sebelumnya mereka sempat menyebutkan informasi penting (misalnya, sedang hamil, punya kulit sensitif, atau sedang cari hadiah), gunakan itu sebagai pintu masuk bertanya:

“Kemarin sempat cerita kalau Kakak punya kulit sensitif ya? Aku bantu cariin varian yang paling cocok ya. Tapi sebelumnya, boleh aku tahu kira-kira kondisi kulit Kakak lebih sering kering atau berminyak?”

Cara ini membuat mereka merasa didengarkan dan diperhatikan secara personal.

3. Follow Up dengan Menawarkan Nilai Tambah

Follow up bukan hanya soal mengingatkan atau menagih keputusan pembelian—melainkan juga kesempatan untuk memberikan alasan kuat mengapa calon pembeli harus lanjut ke tahap closing. Salah satu cara paling efektif untuk mendorong keputusan mereka adalah dengan menawarkan nilai tambah (added value) dalam komunikasi follow up.

Apa Itu Nilai Tambah dalam Konteks Follow Up?

Nilai tambah adalah sesuatu yang membuat penawaran Anda terasa lebih menarik, lebih menguntungkan, atau lebih bermanfaat, tanpa pelanggan merasa sedang dipaksa membeli. Nilai tambah ini bisa dalam bentuk produk, layanan, informasi, atau pengalaman yang membuat pembeli berpikir, “Wah, ini worth it banget!”

Ingat: orang tidak selalu membeli produk terbaik, tapi membeli penawaran terbaik. Maka, ketika Anda follow up, jangan hanya tanya “jadi beli?”, tapi tambahkan daya tarik ekstra yang memperkuat alasan untuk membeli sekarang.

Contoh Bentuk Nilai Tambah yang Bisa Ditawarkan

  1. Bonus Produk
    – “Setiap pembelian hari ini, Kakak dapat free masker 2 pcs senilai 30 ribu ya!”
  2. Layanan Ekstra
    – “Khusus minggu ini, kita ada layanan pengiriman instan gratis untuk area Jabodetabek.”
  3. Diskon atau Cashback Eksklusif
    – “Aku bantu follow up ya Kak. Kalau Kakak order hari ini, bisa pakai kode KLIKHEMAT buat diskon tambahan 15%.”
  4. Garansi atau Trial
    – “Kalau Kakak masih ragu, kita bisa kasih garansi tukar dalam 7 hari kalau barang nggak cocok.”
  5. Konten atau Edukasi Tambahan
    – “Aku juga kirimin panduan PDF perawatan kulit khusus yang cocok untuk kondisi Kakak, biar hasilnya maksimal.”
  6. Packaging Khusus
    – “Kalau untuk hadiah, bisa minta dibungkus box cantik gratis lho Kak. Tinggal bilang aja!”

Dengan menambahkan value seperti ini, Anda tidak hanya membangun rasa urgensi, tapi juga membuat pelanggan merasa diuntungkan.

Mengapa Nilai Tambah Penting dalam Follow Up?

  • Meningkatkan persepsi “worth it” dari penawaran
  • Mengurangi keberatan (“harganya agak mahal” bisa dilawan dengan “tapi dapet bonus senilai segini lho Kak”)
  • Membangun diferensiasi dari penjual lain yang hanya mengandalkan harga
  • Meningkatkan trust dan loyalitas
  • Mendorong keputusan lebih cepat karena mereka merasa dapat lebih banyak dalam waktu terbatas

Contoh Skrip Follow Up dengan Nilai Tambah

“Hai Kak, aku bantu follow up soal produk yang Kakak tanya kemarin ya. Btw, lagi ada promo spesial nih: setiap pembelian produk X, Kakak dapat pouch eksklusif gratis dan diskon 10%. Berlaku cuma sampai malam ini ya 😊”

Contoh lain yang edukatif:

“Kak, aku kirimin panduan cara pakai produknya juga ya biar hasilnya maksimal. Kalau Kakak ada pertanyaan lebih lanjut, aku siap bantu.”

Tips Memberikan Nilai Tambah yang Efektif

  1. Relevan dengan kebutuhan pelanggan
    Jangan tawarkan bonus make-up pada pembeli yang cari skincare untuk pria.
  2. Gunakan bahasa yang meng-highlight manfaatnya
    Bukan sekadar “gratis ini itu”, tapi jelaskan kenapa itu bermanfaat.
  3. Ciptakan sense of urgency
    Tawarkan dalam waktu terbatas agar calon pembeli merasa “sayang kalau dilewatkan”.
  4. Tampilkan sebagai bentuk kepedulian, bukan trik penjualan
    Misalnya: “Karena Kakak sempat cerita punya kulit sensitif, aku bantu kasih bonus sample produk perawatan yang lebih ringan, ya.”

Jangan Terlalu Banyak

Terlalu banyak bonus atau diskon dalam satu waktu bisa menimbulkan kesan “murahan” atau membuat pelanggan malah bingung. Berikan satu atau dua nilai tambah yang benar-benar kuat dan relevan.

Penutup

Follow up yang menawarkan nilai tambah adalah seni mengubah penawaran biasa menjadi luar biasa. Ini bukan soal mengurangi harga, tapi soal meningkatkan persepsi keuntungan di mata pembeli. Saat Anda hadir sebagai pihak yang menawarkan lebih dari yang diminta, pelanggan akan lebih mudah berkata “ya”. Mereka merasa mendapat lebih, tanpa harus merasa dipaksa.

4. Kirim Testimoni dari Pelanggan Nyata

Mengirim testimoni dari pelanggan nyata saat follow up bukan sekadar strategi pendukung—ini adalah alat persuasi yang sangat kuat untuk mempengaruhi keputusan pembelian secara psikologis. Saat calon pembeli masih ragu, yang mereka butuhkan bukan lagi sekadar penjelasan dari Anda, melainkan bukti nyata bahwa orang lain sudah membuktikan dan puas dengan produk Anda.

Testimoni adalah bentuk konkret dari prinsip bukti sosial (social proof), yang terbukti secara ilmiah meningkatkan kepercayaan, mengurangi ketakutan, dan mempercepat keputusan pembelian.

Mengapa Testimoni Pelanggan Sangat Efektif?

  1. Menghilangkan keraguan
    – Calon pembeli sering kali takut salah beli, takut tidak cocok, atau takut tertipu. Testimoni membuktikan bahwa produk Anda sudah teruji oleh orang lain.
  2. Membangun kepercayaan secara instan
    – Jika pelanggan sebelumnya puas dan bersedia berbagi pengalaman, calon pembeli cenderung percaya karena itu datang dari orang seperti mereka, bukan dari penjual.
  3. Membantu pembeli melihat manfaat nyata
    – Testimoni tidak hanya bilang “produknya bagus”, tapi menceritakan hasil spesifik yang dialami pelanggan. Ini lebih meyakinkan daripada sekadar klaim promosi.
  4. Mengaktifkan empati dan koneksi emosional
    – Saat calon pembeli melihat orang lain dengan masalah yang sama berhasil menemukan solusi dari produk Anda, mereka merasa “aku juga bisa dapat hasil seperti itu.”

Waktu Terbaik Mengirim Testimoni

Dalam siklus follow up, testimoni sangat efektif dikirim:

  • Saat calon pembeli masih bingung atau pasif
  • Setelah mereka bertanya harga, tapi belum lanjut
  • Ketika mereka mengungkapkan keraguan (“cocok nggak ya buat aku?”)
  • Sebelum Anda melakukan follow up terakhir

Cara Menyampaikan Testimoni yang Efektif

  1. Gunakan testimoni asli, bukan buatan
    – Testimoni palsu bisa tercium dari gaya bahasanya dan justru merusak kredibilitas. Gunakan tangkapan layar, audio, video, atau kutipan dari pelanggan asli.
  2. Pilih testimoni yang relevan
    – Cocokkan testimoni dengan profil dan kebutuhan calon pembeli. Misal, jika pelanggan Anda seorang ibu rumah tangga yang beli skincare, kirim testimoni dari sesama ibu.
  3. Jelaskan konteks testimoni
    – Tambahkan narasi ringan agar calon pembeli bisa memahami bahwa testimoni itu sesuai dengan situasinya.

Contoh:

“Kak, ini ada review dari salah satu pelanggan kami yang juga punya masalah kulit kering dan kemerahan. Setelah pakai produk ini selama 2 minggu, dia bilang perubahannya signifikan banget 😍”

  1. Gunakan format visual jika memungkinkan
    – Kirim foto before-after, tangkapan layar chat, video unboxing, atau bahkan rekaman suara singkat. Format ini lebih menarik dan mudah dipercaya dibanding teks polos.

Contoh Skrip Follow Up dengan Testimoni

“Halo Kak, aku bantu follow up ya. Btw, kemarin ada yang beli produk ini juga karena punya masalah kulit yang sama. Ini aku kirimin review-nya ya Kak, siapa tahu bisa bantu Kakak lebih yakin 😊”

Lalu kirimkan screenshot atau link pendek ke video testimoni pelanggan tersebut.

Hindari Testimoni yang Terlalu Umum

Kalimat seperti “Bagus banget produknya!” terdengar datar dan kurang meyakinkan. Pilih testimoni yang mengandung detail pengalaman, masalah, dan hasil.

Contoh testimoni yang kuat:

“Awalnya aku ragu karena kulitku gampang iritasi, tapi ternyata serum ini ringan banget dan bikin kulit jadi lembab cuma dalam 3 hari. Ini pembelian ulang aku yang ketiga!”

Bonus Tips: Mintalah Izin Sebelumnya

Jika Anda ingin kirim tangkapan layar chat dari pelanggan sebelumnya, pastikan Anda sudah mendapatkan izin. Atau hilangkan nama dan foto mereka untuk menjaga privasi.

Penutup

Testimoni pelanggan nyata bukan hanya bukti sosial, tapi alat jualan yang sangat ampuh untuk mendorong kepercayaan dan keyakinan. Dalam follow up, testimoni mampu mengubah sikap “masih mikir-mikir” menjadi “kayaknya aku harus coba juga”. Gunakan testimoni sebagai jembatan empati yang memperkuat pesan Anda dan memperbesar peluang closing secara alami.

5. Gunakan Teknik Scarcity dan Urgency

Scarcity (kelangkaan) dan urgency (mendesak) adalah dua senjata psikologis yang sangat efektif. Contoh:

“Stoknya tinggal 3 lagi, Kak. Biasanya habis dalam 1 hari kalau udah diskon. Mau aku simpanin dulu?”

Dengan memberikan rasa kesempatan yang bisa hilang, calon pembeli akan terdorong untuk membuat keputusan lebih cepat.

6. Follow Up dengan Format Reminder yang Lembut

Terkadang calon pelanggan tidak menolak, hanya lupa. Anda bisa mengingatkan tanpa terdengar memaksa:

“Hai Kak, aku cuma mau ingetin aja kalau penawarannya masih aktif sampai malam ini. Takutnya kelewat. Kalau ada yang bisa aku bantu, feel free ya 😊”

Format seperti ini tetap menjaga hubungan baik, tanpa tekanan.

7. Kirim Edukasi Ringan tentang Produk

Follow up tidak selalu harus jualan. Anda bisa memberi informasi menarik yang tetap relevan, contohnya:

“By the way Kak, aku mau share tips pakai produk ini biar hasilnya lebih maksimal. Banyak pelanggan kami yang awalnya salah cara pakainya 😅”

Dengan begini, calon pembeli merasa Anda bukan cuma mau jualan, tapi peduli terhadap hasil yang mereka dapatkan.

8. Follow Up dengan Memberi Opsi Alternatif

Jika calon pembeli terlihat ragu soal harga atau varian, berikan pilihan lain:

“Kalau Kakak merasa yang ini agak di luar budget, kita ada versi ekonomisnya nih. Kualitas tetap bagus kok.”

Alternatif membuat mereka tetap dalam jalur pembelian, meski bukan pada produk awal.

9. Gunakan Bahasa yang Dekat dan Personal

Orang lebih merespons pesan yang terdengar manusiawi dan hangat. Gunakan nama mereka, hindari template yang terlalu robotik:

“Kak Sari, semoga harinya menyenangkan ya! Aku follow up yang kemarin soal skincare, Kak. Udah sempat dipikirin belum?”

Bahasa yang dekat akan menciptakan koneksi emosional, bukan sekadar komunikasi transaksional.

10. Tawarkan Garansi atau Jaminan Kepuasan

Keraguan sering datang karena takut kecewa. Anda bisa mengatasinya dengan menyampaikan garansi:

“Kami kasih jaminan uang kembali kalau barang gak sampai atau gak sesuai ya, Kak. Jadi belanja aman 😊”

Kepercayaan meningkat saat risiko diturunkan.

11. Buat Deadline yang Realistis dan Nyata

Deadline yang jelas memberi tekanan positif untuk membuat keputusan, contohnya:

“Promo ini berlaku cuma sampai Minggu malam, Kak. Setelah itu harga kembali normal ya.”

Pastikan deadline tersebut bukan tipu-tipu, karena calon pembeli bisa kehilangan kepercayaan.

12. Follow Up dengan Story atau Cerita Singkat

Manusia menyukai cerita. Anda bisa membuat pesan follow up dalam bentuk kisah singkat:

“Ada Kak Rina kemarin beli produk ini juga, awalnya dia juga ragu. Tapi setelah seminggu pakai, dia langsung repeat order. Aku share testimoni dia ya 😊”

Cerita membuat pesan lebih relatable dan lebih mudah dicerna.

Sales: Apa Itu, Istilah-Istilah Umum, dan Jenis-Jenis …

13. Tindak Lanjuti dengan Kalender Penawaran Berkala

Jika mereka belum siap sekarang, tetap jaga hubungan dengan mengirim info penawaran berkala:

“Halo Kak, bulan ini kami ada promo bundle hemat lho. Mungkin ini waktu yang pas kalau Kakak sempat tunda kemarin.”

Dengan begini, calon pelanggan tetap merasa diperhatikan dan akhirnya bisa jadi closing di waktu yang tepat.

14. Gunakan Voice Note atau Video Singkat

Kadang teks terasa hambar. Anda bisa membuat voice note atau video singkat yang terdengar lebih personal dan meyakinkan. Contoh:

“Halo Kak, aku Kirana dari Tim X. Aku bantu follow up produk kemarin ya. Aku yakin Kakak bakal suka banget sama produknya. Ini aku kirimin juga detailnya di PDF ya.”

Format suara atau visual membuat pesan lebih hidup dan lebih sulit diabaikan.

Kesimpulan

Follow up bukan soal “mengganggu”, tapi soal membangun hubungan dan membantu prospek menyelesaikan keraguannya. Jika Anda melakukannya dengan niat tulus, strategi yang tepat, dan bahasa yang hangat, maka tingkat closing Anda akan meningkat drastis. Kuncinya adalah peka terhadap sinyal dari calon pembeli dan tetap profesional tanpa terlihat terlalu memaksa. Gunakan teknik-teknik di atas dengan bijak dan konsisten, dan Anda akan melihat hasilnya sendiri.

Tertarik dalam dunia bisnis? Gunakan fitur AutoLaris

Bagikan ke