Membuat proyeksi keuangan adalah langkah penting yang perlu dilakukan saat memulai bisnis online. Proyeksi keuangan membantu kamu memahami kebutuhan modal, memperkirakan pendapatan, dan mengantisipasi tantangan keuangan di masa depan. Dengan proyeksi yang baik, bisnis online baru dapat berjalan lebih terencana dan efisien. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk membuat proyeksi keuangan yang akurat.
1. Pahami Komponen Utama dalam Proyeksi Keuangan
Sebelum membuat proyeksi, kenali terlebih dahulu komponen utama yang perlu dimasukkan:
- Pendapatan (Revenue): Perkirakan pendapatan dari penjualan produk atau jasa.
- Biaya Tetap (Fixed Costs): Biaya yang tidak berubah meskipun volume produksi meningkat, seperti biaya sewa atau gaji karyawan.
- Biaya Variabel (Variable Costs): Biaya yang berubah sesuai dengan jumlah penjualan, seperti biaya bahan baku atau pengemasan.
- Laba Bersih (Net Profit): Pendapatan dikurangi total biaya.
Tips: Gunakan spreadsheet atau perangkat lunak akuntansi untuk mempermudah proses perhitungan.
2. Tentukan Target Penjualan
Langkah pertama dalam proyeksi keuangan adalah menentukan target penjualan. Kamu dapat menghitungnya berdasarkan:
- Ukuran pasar yang ingin kamu raih.
- Harga produk atau jasa yang ditawarkan.
- Perkiraan jumlah pelanggan yang dapat kamu jangkau dalam waktu tertentu.
Contoh:
Jika targetmu adalah menjual 500 unit produk dengan harga Rp100.000 per unit, maka pendapatan bulanan yang diharapkan adalah Rp50 juta.
3. Perkirakan Biaya Operasional
Hitung semua biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnismu. Biaya ini meliputi:
- Biaya Tetap: Sewa ruang, gaji karyawan, biaya internet, dll.
- Biaya Variabel: Bahan baku, pengiriman, komisi penjualan, dll.
- Biaya Tak Terduga: Sisihkan sekitar 10% dari total biaya untuk kebutuhan darurat.
Tips: Jangan lupa memasukkan biaya pemasaran, seperti iklan di media sosial atau biaya influencer marketing.
4. Buat Proyeksi Arus Kas (Cash Flow Projection)
Arus kas menunjukkan pergerakan uang masuk dan keluar dalam bisnismu. Proyeksi ini membantu memastikan bisnismu memiliki likuiditas yang cukup untuk operasional.
- Arus Kas Masuk (Cash Inflow): Pendapatan dari penjualan.
- Arus Kas Keluar (Cash Outflow): Biaya operasional, investasi, dan lainnya.
Tips: Usahakan agar arus kas selalu positif agar bisnismu tidak mengalami kekurangan dana.
5. Hitung Titik Impas (Break-Even Point)
Titik impas adalah kondisi di mana pendapatan sama dengan total biaya, sehingga bisnismu tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.
Rumus Titik Impas:
Titik Impas = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Contoh:
Jika biaya tetap Rp10 juta, harga jual per unit Rp100.000, dan biaya variabel Rp50.000 per unit, maka titik impas adalah:
Rp10 juta / (Rp100.000 – Rp50.000) = 200 unit.
Artinya, kamu harus menjual setidaknya 200 unit untuk mencapai titik impas.
6. Evaluasi dan Revisi Secara Berkala
Proyeksi keuangan adalah panduan, bukan angka yang pasti. Karena itu, lakukan evaluasi secara berkala berdasarkan hasil penjualan dan biaya aktual. Sesuaikan proyeksimu jika terjadi perubahan dalam pasar atau strategi bisnis.
Kesimpulan
Proyeksi keuangan adalah fondasi untuk memastikan kelangsungan bisnis online baru. Dengan memahami pendapatan, biaya, arus kas, dan titik impas, kamu dapat membuat keputusan bisnis yang lebih tepat. Proyeksi keuangan yang terencana juga membantu kamu meyakinkan investor atau mitra bisnis untuk bekerja sama.





