Nutri Level mulai diterapkan pada tahun 2026 berdasarkan peraturan yang telah diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ketentuan ini perlu diperhatikan oleh seller yang menjual berbagai produk konsumsi masyarakat, terutama produk minuman dalam kemasan. Melalui pencantuman informasi gizi yang lebih jelas dan mudah dipahami, konsumen dapat mengetahui kandungan nutrisi dalam produk sebelum melakukan pembelian. Program ini diterapkan sebagai upaya pemerintah untuk mendorong pola konsumsi yang lebih sehat serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih produk pangan.
Artikel ini akan membahas penerapan Nutri Level dan kategori level yang digunakan pada minuman kemasan. Tujuannya agar seller lebih memahami regulasi yang berlaku dan dapat menyesuaikan produk yang dipasarkan.
Kenapa Penerapan Level Penting untuk Diterapkan?
Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui media sosial Alodokter, banyak minuman kemasan diketahui mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) dalam jumlah tinggi. Konsumsi GGL secara berlebihan dapat meningkatkan berbagai risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Risiko tersebut antara lain obesitas, diabetes, stroke, hingga penyakit jantung. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih cermat dalam memperhatikan kandungan gizi sebelum mengonsumsi produk kemasan.
Melihat tingginya konsumsi minuman kemasan serta risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan, Kemenkes mulai menerapkan Nutri Level pada produk minuman kemasan. Kebijakan ini bertujuan memberikan informasi yang lebih mudah dipahami mengenai kandungan gula, garam, dan lemak dalam suatu produk. Dengan adanya Nutri level, konsumen diharapkan dapat lebih sadar terhadap kandungan gizi yang dikonsumsi serta membuat pilihan yang lebih sehat saat membeli minuman kemasan.
Bagaimana Bentuk Dari Nutri Level?
Dasar penetapan kategori Nutri Level adalah kandungan GGL yang terdapat pada 100 mL produk minuman olahan siap konsumsi.

Kemenkes telah menetapkan kategori untuk setiap nutri level berdasarkan kandungan gizi produk. Berikut penjelasan dari masing-masing nutri level.
- Level A merupakan kategori terbaik karena memiliki kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang lebih rendah dibandingkan level lainnya. Produk pada level ini tidak diperbolehkan menggunakan bahan tambahan pangan pemanis, baik pemanis alami maupun pemanis buatan, melalui penambahan langsung maupun ikutan (carry over).
- Level B diberikan kepada produk minuman yang memiliki kandungan GGL lebih tinggi dibandingkan Level A, tetapi masih memenuhi ketentuan tertentu. Pada kategori ini, penggunaan bahan tambahan pangan pemanis alami masih diperbolehkan.
- Level C dan Level D merupakan kategori untuk produk minuman dengan kandungan GGL yang lebih tinggi. Pada kedua level ini, penggunaan bahan tambahan pangan pemanis, baik alami maupun buatan diperbolehkan. Perbedaan antara Level C dan Level D terletak pada besarnya kadar GGL, di mana Level D menunjukkan kandungan yang lebih tinggi dibandingkan Level C.
Selengkapnya mengenai aturan dan kategori nutri level dapat diakses di sini.
Nutri Level tidak bertujuan melarang penjualan maupun konsumsi produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang tinggi. Sistem ini hadir sebagai sumber informasi yang membantu konsumen memahami kandungan gizi suatu produk sebelum membeli. Dengan informasi yang lebih jelas, masyarakat dapat mengontrol pola konsumsi sesuai kebutuhan dan membuat pilihan yang lebih bijak.
Kesimpulan
Penerapan Nutri Level menjadi langkah yang dilakukan pemerintah untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada minuman kemasan secara lebih mudah. Melalui sistem kategori yang jelas, konsumen dapat memperoleh informasi gizi dengan cepat sehingga lebih bijak dalam memilih produk yang akan dikonsumsi. Upaya ini juga diharapkan dapat mendukung pola hidup sehat dan mengurangi risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan konsumsi GGL berlebihan.
Bagi seller, memahami ketentuan Nutri Level penting untuk memastikan produk yang dipasarkan telah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pengetahuan mengenai kriteria setiap level juga dapat membantu seller menyesuaikan komposisi produk, strategi pemasaran, serta informasi yang disampaikan kepada konsumen. Dengan demikian, seller tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap produk yang ditawarkan.






