Dalam era digital yang semakin kompetitif, menjadi seller online bukan hanya soal jualan di marketplace atau media sosial. Perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, dan makin cerdasnya algoritma platform membuat setiap langkah dalam bisnis online harus dirancang dengan cermat. Satu kesalahan kecil bisa berdampak besar: dari turunnya traffic hingga hilangnya kepercayaan pelanggan. Artikel ini membahas delapan kesalahan fatal yang wajib dihindari oleh para pelaku usaha online agar tetap bisa bertahan dan berkembang di tahun ini.
1. Mengabaikan Deskripsi Produk yang Jelas dan Meyakinkan
Kesalahan pertama yang sangat krusial dan kerap dilakukan oleh banyak seller online, baik pemula maupun yang sudah berjualan cukup lama, adalah mengabaikan deskripsi produk yang jelas dan meyakinkan. Padahal, dalam konteks belanja daring, deskripsi produk berperan sebagai jembatan utama antara produk fisik dan imajinasi pembeli.
Mengapa Deskripsi Produk Itu Vital?
Ketika pembeli tidak bisa melihat, menyentuh, atau mencoba produk secara langsung, mereka bergantung sepenuhnya pada informasi visual dan teks yang Anda sajikan. Foto produk memang menarik perhatian pertama, tapi deskripsi produk adalah faktor yang menggerakkan keputusan pembelian. Tanpa deskripsi yang baik, calon pembeli akan:
- Ragu untuk membeli karena tidak memahami detail produk
- Meninggalkan toko dan mencari produk serupa dari seller lain yang lebih informatif
- Berpotensi melakukan komplain atau meminta retur karena produk tidak sesuai ekspektasi
Ciri-Ciri Deskripsi Produk yang Buruk
Deskripsi yang tidak efektif umumnya memiliki ciri-ciri seperti:
- Sangat singkat, hanya 1–2 baris
- Terlalu umum dan tidak menjelaskan manfaat nyata
- Menyertakan istilah teknis tanpa penjelasan
- Copy-paste dari website atau seller lain tanpa penyesuaian
- Tidak menyebutkan spesifikasi penting seperti ukuran, bahan, cara penggunaan, atau kelebihan unik
10 Contoh Deskripsi Produk yang Menarik & Cara Buatnya
Contoh deskripsi buruk:
“Kemeja pria lengan panjang, bahan adem dan nyaman dipakai. Cocok untuk sehari-hari.”
Deskripsi seperti ini tidak memberi gambaran mendalam dan tidak menjawab pertanyaan logis calon pembeli, seperti: Bahan apa? Ukuran berapa? Apakah formal atau kasual? Bisa dicuci mesin?
Elemen Penting dalam Deskripsi Produk yang Baik
Berikut adalah komponen penting dalam deskripsi produk yang harus selalu diperhatikan seller:
1. Spesifikasi Teknis Produk
Cantumkan informasi detail tentang:
- Ukuran dan dimensi (dalam cm atau gram)
- Jenis bahan dan teksturnya
- Warna yang tersedia
- Daya tahan atau fitur tambahan (misalnya tahan air, anti gores, dsb.)
Contoh:
Kemeja pria bahan katun Oxford premium, ukuran M (panjang 72cm, lebar dada 52cm), warna navy, breathable dan nyaman untuk aktivitas outdoor maupun indoor.
2. Manfaat Produk dan Penggunaannya
Sampaikan bagaimana produk Anda bisa membantu menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan pembeli. Uraikan dengan gaya komunikatif, seperti berbicara langsung kepada pelanggan.
Contoh:
Cocok digunakan saat meeting, acara formal, atau aktivitas santai. Bahannya yang ringan dan tidak mudah kusut membuat Anda tetap tampil rapi tanpa repot menyetrika berkali-kali.
3. Panduan Penggunaan atau Perawatan
Tambahkan cara pakai, penyimpanan, atau perawatan jika perlu, terutama untuk produk-produk seperti elektronik, fashion, atau kecantikan.
Contoh:
Cuci menggunakan air dingin, hindari pemutih, dan setrika suhu rendah agar bahan tetap awet dan warna tidak pudar.
4. Jaminan Kualitas dan Garansi
Ini bagian penting untuk membangun kepercayaan. Cantumkan jaminan atau kebijakan retur bila ada.
Contoh:
Produk telah melewati quality control. Jika terdapat cacat produksi, kami siap menukar produk dalam waktu 7 hari setelah diterima.
5. Ajakan Bertindak (Call to Action)
Meski tidak wajib, menyelipkan ajakan untuk segera beli bisa mendorong keputusan impulsif pembeli.
Contoh:
Stok terbatas, segera checkout sekarang dan nikmati penampilan stylish tanpa ribet!
Tips Menulis Deskripsi Produk yang Meyakinkan
- Gunakan bahasa yang ramah dan humanis. Hindari gaya bahasa kaku seperti brosur. Bayangkan Anda sedang berbicara langsung dengan calon pembeli.
- Fokus pada manfaat, bukan hanya fitur. Alih-alih hanya menyebut “terbuat dari kain linen”, tambahkan penjelasan seperti “memberikan sensasi adem dan tidak gerah meski dipakai seharian.”
- Gunakan poin-poin bila perlu. Untuk produk dengan banyak fitur, lebih baik disusun dalam bullet agar mudah dipindai oleh mata pembaca.
- Optimalkan untuk SEO (Search Engine Optimization). Gunakan kata kunci yang sering dicari pembeli di dalam deskripsi, tapi jangan sampai terlihat dipaksakan.
Dampak Positif dari Deskripsi Produk yang Optimal
- Meningkatkan Konversi Penjualan: Semakin informatif dan menarik deskripsi Anda, semakin tinggi peluang pembeli akan mengklik tombol beli.
- Mengurangi Komplain dan Retur: Informasi yang jelas sejak awal akan menyamakan ekspektasi pembeli dan kenyataan saat barang diterima.
- Meningkatkan Posisi Produk di Marketplace: Algoritma marketplace seperti Shopee dan Tokopedia memperhitungkan kualitas deskripsi dalam ranking pencarian.
- Membangun Reputasi dan Trust: Seller yang informatif akan terlihat profesional dan dipercaya lebih tinggi oleh pelanggan baru.
Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Menulis Deskripsi
Menyisipkan informasi tidak relevan atau menyulitkan pemahaman
Menebar klaim berlebihan tanpa bukti (“paling bagus se-Indonesia”)
Menambahkan banyak emoji atau huruf kapital berlebihan (terkesan spammy)
Tidak meng-update deskripsi meski ada perubahan produk
Baca Juga : 5 Jurus Closing Kilat yang Bikin Pembeli Gak Bisa Nolak
2. Tidak Menanggapi Pertanyaan dan Keluhan dengan Cepat

Dalam era digital yang serba cepat, kecepatan respons menjadi salah satu faktor kunci dalam membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh seller online adalah tidak menanggapi pertanyaan atau keluhan dari pelanggan secara cepat dan tanggap. Ini bukan hanya soal waktu, tapi juga menyangkut citra profesionalisme dan pelayanan bisnis Anda secara keseluruhan.
Mengapa Respons Cepat Itu Penting?
Ketika seorang calon pembeli mengajukan pertanyaan, mereka berada dalam fase pertimbangan. Jika pertanyaan itu tidak dijawab dengan cepat, kemungkinan besar mereka akan:
- Berpindah ke toko lain yang memberikan informasi lebih sigap
- Membatalkan niat beli karena merasa tidak yakin atau tidak diprioritaskan
- Membangun asumsi negatif terhadap kredibilitas toko Anda
Hal yang sama berlaku bahkan lebih serius ketika menyangkut keluhan pelanggan. Jika komplain diabaikan atau ditanggapi lambat, dampaknya bisa sangat merugikan:
- Pelanggan kecewa dan memberikan rating buruk
- Reputasi toko tercoreng di kolom ulasan publik
- Potensi kehilangan pelanggan tetap karena pengalaman buruk
- Marketplace bisa memberikan penalti karena dinilai tidak aktif melayani
Realitas Perilaku Konsumen Digital Saat Ini
Di tahun 2025, konsumen semakin menginginkan pengalaman berbelanja yang cepat, efisien, dan memuaskan. Mereka terbiasa dengan layanan instan dari berbagai platform seperti live chat, chatbot AI, hingga CS 24 jam. Jika Anda masih merespons pertanyaan 1–2 hari kemudian atau bahkan tidak sama sekali, Anda secara otomatis tertinggal.
Bentuk Pertanyaan dan Keluhan Umum dari Pelanggan
Pertanyaan sebelum pembelian:
- Stok warna A masih ada?
- Bisa kirim hari ini?
- Ini bisa COD?
- Ada garansi?
Keluhan setelah pembelian:
- Barang tidak sesuai dengan deskripsi
- Paket rusak saat diterima
- Tidak bisa dihubungi untuk retur
- Lama pengiriman melebihi estimasi
Bila pertanyaan di atas tidak segera dijawab, bukan hanya Anda kehilangan kesempatan closing, tapi juga memperbesar risiko kerugian jangka panjang.
Strategi untuk Menanggapi dengan Cepat dan Efektif
1. Aktifkan Notifikasi Real-Time
Pastikan semua notifikasi dari marketplace, website, atau media sosial aktif dan terhubung ke ponsel atau dashboard pusat Anda.
2. Gunakan Fitur Auto-Reply atau Chatbot Awal
Gunakan fitur auto-reply dengan kata sambutan ramah dan informatif sebagai respons pertama. Contoh:
“Terima kasih sudah menghubungi kami! Admin akan membalas pesan Anda dalam beberapa menit. Sementara itu, bisa cek deskripsi produk untuk informasi dasar, ya 😊”
3. Atur Jam Respons Jelas
Tuliskan jam operasional yang spesifik pada profil toko Anda agar pelanggan tahu kapan bisa mendapatkan balasan. Misalnya:
“CS aktif setiap hari pukul 08.00–20.00 WIB. Pertanyaan di luar jam tersebut akan kami jawab secepatnya.”
4. Sediakan Template Jawaban Cepat
Untuk pertanyaan berulang seperti ongkir, stok, atau cara pakai, buat template siap pakai yang bisa dikirim dengan satu klik agar waktu Anda lebih efisien.
5. Libatkan Tim atau Virtual Assistant
Jika skala bisnis Anda sudah berkembang, pertimbangkan merekrut admin khusus atau menggunakan virtual assistant untuk menangani pesan masuk secara profesional.
6. Pantau Semua Kanal Komunikasi
Jangan hanya fokus pada satu platform. Banyak pelanggan mungkin menghubungi lewat Instagram, WhatsApp, Tokopedia, atau Shopee secara bersamaan. Gunakan integrasi omnichannel agar tidak ada pesan terlewat.
7. Beri Prioritas pada Keluhan
Keluhan pelanggan harus ditangani lebih cepat daripada pertanyaan umum. Tunjukkan empati, jangan defensif, dan tawarkan solusi nyata, seperti penggantian produk atau pengembalian dana bila relevan.
Contoh Respons Ideal untuk Pertanyaan dan Keluhan
Contoh respons pertanyaan stok:
“Halo Kak! Untuk warna biru navy masih tersedia dan siap kirim hari ini. Silakan checkout ya sebelum kehabisan 😊”
Contoh respons keluhan produk rusak:
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya, Kak. Bisa kirimkan foto produk dan nomor pesanan ke kami? Kami akan bantu proses penggantian secepat mungkin. Terima kasih atas pengertiannya.”
Dampak Positif dari Respons Cepat
- Meningkatkan Tingkat Konversi: Pelanggan lebih cepat merasa yakin dan melakukan pembelian.
- Mengurangi Komplain Berlarut: Masalah yang ditangani segera tidak akan berkembang menjadi review negatif.
- Membentuk Loyalitas Pelanggan: Konsumen yang merasa dihargai cenderung kembali berbelanja.
- Memberi Citra Profesional: Respons cepat menunjukkan bahwa bisnis Anda dikelola serius, bukan asal jualan.
- Memperkuat Rating dan Reputasi di Marketplace: Respons seller jadi salah satu metrik penting yang dipantau platform e-commerce.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Membalas dengan jawaban satu kata seperti “ada” atau “gak tau”
- Menggunakan nada ketus, dingin, atau tidak sopan
- Membiarkan pertanyaan pelanggan tertunda lebih dari 24 jam
- Tidak menindaklanjuti keluhan hingga tuntas
- Hanya aktif saat promosi tapi pasif di hari biasa
Kesimpulan
Seller online bukan hanya penjual, tapi juga customer service representative dari brand yang Anda bangun. Jangan abaikan kekuatan komunikasi langsung dengan pelanggan. Tanggap, ramah, dan solutif adalah kunci mempertahankan konsumen di tengah persaingan digital yang semakin ketat. Ketika seller sigap dalam menanggapi pertanyaan dan menyelesaikan keluhan, pelanggan pun merasa dihargai dan lebih besar kemungkinan untuk menjadi pembeli setia.
3. Tidak Memiliki Strategi Harga yang Jelas dan Kompetitif

Salah satu kesalahan fatal yang masih sering dilakukan oleh seller online di tahun 2025 adalah tidak memiliki strategi harga yang jelas, terstruktur, dan kompetitif. Padahal, harga merupakan salah satu faktor paling krusial dalam keputusan pembelian. Jika Anda asal pasang harga tanpa analisa pasar atau menyesuaikan dengan dinamika pesaing, Anda akan sulit bersaing—baik dari segi penjualan, kepercayaan konsumen, hingga profitabilitas.
Mengapa Strategi Harga Itu Vital?
Harga bukan hanya angka; harga mencerminkan:
- Posisi brand Anda di pasar
- Kualitas yang diasumsikan pelanggan
- Margin keuntungan yang bisa Anda pertahankan
- Kemampuan untuk bersaing di tengah banjirnya seller lain
Tanpa strategi harga yang tepat, Anda bisa terjebak dalam dua ekstrem:
- Harga terlalu mahal, sehingga calon pelanggan berpaling
- Harga terlalu murah, sehingga bisnis tidak sehat dan profit terus menipis
Keduanya sama-sama merugikan, apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, di mana daya beli masyarakat cenderung menurun dan persaingan justru semakin ketat.
Ciri Seller yang Tidak Punya Strategi Harga Jelas
- Menentukan harga hanya berdasarkan “feeling” atau meniru harga seller lain tanpa analisa
- Sering mengganti harga tanpa alasan atau logika yang bisa dipahami pelanggan
- Tidak mengetahui break-even point alias titik impas bisnisnya sendiri
- Tidak pernah mengadakan riset kompetitor secara berkala
- Tidak tahu kapan harus menaikkan harga atau memberi diskon tanpa merugikan margin
Strategi Harga yang Harus Dimiliki Seller Online
1. Harga Berbasis Nilai (Value-Based Pricing)
Tentukan harga bukan hanya dari biaya produksi, tapi juga dari nilai manfaat produk bagi konsumen. Produk dengan manfaat besar bisa dihargai lebih tinggi karena dianggap lebih “worth it”.
Contoh: Produk herbal anti-stres premium bisa dihargai lebih tinggi jika dikomunikasikan sebagai solusi alami, bukan sekadar suplemen biasa.
2. Analisis Harga Pesaing (Competitive Pricing)
Rutin lakukan pengecekan harga pesaing dengan fitur perbandingan otomatis di marketplace. Jangan hanya bersaing di harga termurah, tapi pastikan ada diferensiasi lain seperti bonus, garansi, atau pengemasan.
3. Bundling Produk
Tawarkan paket harga dengan produk tambahan (bundle) untuk menaikkan nilai jual sekaligus meningkatkan AOV (Average Order Value).
Contoh: Alih-alih menjual masker kain Rp10.000 per pcs, Anda bisa tawarkan “3 pcs hanya Rp27.000 + bonus pouch”.
4. Diskon Bertarget, Bukan Asal Potong Harga
Gunakan diskon berbasis perilaku konsumen, seperti diskon untuk pembelian kedua, flash sale terbatas waktu, atau diskon eksklusif untuk pelanggan lama. Ini lebih strategis dibanding perang harga buta.
5. Pertimbangkan Psikologi Harga
Harga seperti “Rp99.000” lebih menarik daripada “Rp100.000” karena persepsi psikologis. Teknik ini terbukti meningkatkan konversi secara signifikan.
6. Harga Berlapis (Tier Pricing)
Berikan beberapa opsi harga untuk produk yang sama dengan variasi fitur atau paket. Ini memberi fleksibilitas dan meningkatkan kemungkinan pembelian.
Contoh:
- Paket Basic: Rp50.000 (tanpa bonus)
- Paket Standard: Rp70.000 (bonus ebook)
- Paket Premium: Rp90.000 (bonus ebook + konsultasi)
7. Ketahui Biaya Anda Secara Mendalam
Sebelum menentukan harga, Anda harus tahu dengan jelas berapa total biaya produksi, pengemasan, pengiriman, dan iklan. Jangan sampai jualan banyak tapi rugi karena salah kalkulasi.
Gunakan rumus sederhana:
Harga Jual = (Biaya Total + Target Laba) ÷ Jumlah Produk
8. Responsif terhadap Perubahan Pasar
Pantau tren musiman, kondisi ekonomi, hingga promo marketplace. Jangan ragu menyesuaikan harga secara strategis agar tetap relevan dan kompetitif.
Risiko Jika Tidak Memiliki Strategi Harga
- Margin tipis atau malah rugi terus-menerus
- Tidak mampu berkompetisi dengan seller yang lebih efisien
- Ditinggal pelanggan karena tidak percaya konsistensi harga
- Sulit naik level seller karena konversi rendah
- Brand dianggap tidak profesional atau tidak serius
Cara Menyusun Strategi Harga yang Tepat
Perbarui strategi secara berkala minimal setiap 3 bulan
Hitung biaya operasional Anda secara lengkap
Tentukan target profit margin (misal 30%)
Lakukan riset harga kompetitor di produk sejenis
Uji beberapa strategi harga dan analisis dampaknya (A/B testing)
Gunakan feedback pelanggan sebagai indikator penyesuaian
4. Mengabaikan Kualitas Foto Produk

Dalam penjualan online, foto adalah senjata utama. Kesalahan umum yang dilakukan seller adalah:
- Menggunakan foto gelap atau buram
- Tidak menampilkan produk dari berbagai sudut
- Tidak menggunakan latar belakang yang bersih
- Memakai foto dari Google atau toko lain
Foto yang baik tidak harus mahal, tapi harus memenuhi beberapa kriteria:
- Jelas, tajam, dan terang
- Tampilkan detail produk (close-up, ukuran perbandingan, tekstur)
- Konsisten secara estetika
- Bisa dikombinasikan dengan elemen gaya hidup (foto produk saat digunakan)
Gunakan cahaya alami atau ring light sederhana, dan pastikan resolusi tinggi. Produk yang difoto dengan profesionalisme menunjukkan kredibilitas toko Anda.
5. Tidak Membangun Branding dan Identitas Toko
Seller yang hanya mengandalkan nama toko generik seperti “Toko Murah 88” tanpa logo, tema warna, atau tone komunikasi yang konsisten akan sulit menempel di benak konsumen. Padahal branding adalah faktor penentu dalam loyalitas pelanggan jangka panjang.
Kesalahan seller adalah hanya fokus pada jualan produk, tanpa membangun merek. Padahal, orang tidak hanya membeli barang, mereka membeli pengalaman dan identitas dari merek tersebut.
Tips membangun branding:
- Gunakan nama toko yang unik dan mudah diingat
- Buat logo sederhana tapi profesional
- Tentukan warna dan gaya komunikasi (fun, formal, premium, kasual)
- Konsisten dalam semua saluran: marketplace, media sosial, kemasan, bahkan cara membalas pesan
Dengan identitas yang kuat, toko Anda tidak akan mudah dilupakan bahkan di tengah ribuan kompetitor.
6. Tidak Mengoptimalkan Promosi dan Iklan Digital
Banyak seller mengandalkan promosi organik dan berharap pembeli datang sendiri. Di era algoritma seperti sekarang, strategi ini sudah tidak cukup. Kesalahan fatal adalah tidak memanfaatkan iklan berbayar, atau malah menggunakannya tanpa strategi yang matang.
Iklan tanpa segmentasi dan copywriting yang kuat hanya akan membakar uang. Seller perlu memahami dasar-dasar digital marketing seperti:
- Menentukan target audience
- Membuat konten promosi yang menarik dan call-to-action yang kuat
- Menyesuaikan platform iklan (Shopee Ads, Facebook Ads, TikTok Ads, Google Ads)
- Mengukur dan mengoptimalkan performa iklan secara berkala
Dengan pendekatan ini, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk iklan bisa dikonversi menjadi penjualan nyata.
7. Tidak Memaksimalkan Review dan Testimoni Pelanggan
Review adalah aset berharga dalam penjualan online. Kesalahan seller adalah:
- Tidak meminta ulasan secara aktif
- Tidak merespons ulasan negatif dengan baik
- Tidak menampilkan testimoni di berbagai platform
Sebagian besar pembeli membaca review sebelum membeli. Maka seller harus proaktif:
- Kirim pesan follow-up setelah pengiriman untuk minta ulasan
- Berikan insentif kecil seperti voucher diskon untuk ulasan jujur
- Tampilkan testimoni terbaik di foto produk, media sosial, dan halaman toko
Ulasan yang baik bukan hanya meningkatkan kepercayaan, tapi juga mendorong pembelian impulsif karena efek sosial.
8. Tidak Menganalisis Data Penjualan dan Perilaku Pembeli
Kesalahan terbesar seller online adalah menjalankan bisnis tanpa data. Mereka tidak tahu:
- Produk mana yang paling laku
- Jam berapa pembeli paling banyak transaksi
- Iklan mana yang paling efektif
- Segmentasi pelanggan berdasarkan lokasi atau usia
Tanpa data, semua keputusan jadi spekulatif. Padahal, hampir semua marketplace dan platform sosial media menyediakan data analitik.
Langkah yang harus dilakukan seller:
- Rajin memeriksa laporan penjualan dan konversi
- Gunakan tools analitik seperti Google Analytics, Shopee Center, Meta Ads Manager
- Lakukan A/B testing pada konten, foto, atau harga
- Evaluasi kinerja produk per minggu atau per bulan
Dengan pendekatan berbasis data, seller bisa terus meningkatkan performa dan menghindari jebakan pengambilan keputusan berdasarkan asumsi semata.
Kesimpulan
Menjadi seller online bukan hanya soal bisa posting produk dan kirim barang. Ini adalah bisnis yang menuntut pemahaman mendalam tentang pasar, teknologi, perilaku konsumen, dan strategi pemasaran yang terus berubah. Delapan kesalahan fatal di atas adalah hal-hal yang masih sering terjadi, bahkan di kalangan seller berpengalaman.
Dengan menghindari kesalahan tersebut dan berani beradaptasi, memperbaiki proses, serta terus belajar dari data dan feedback pelanggan, Anda bisa membangun bisnis online yang tidak hanya bertahan—tetapi juga berkembang di tengah kompetisi digital yang semakin ketat.
Tertarik dalam dunia bisnis? Gunakan fitur AutoLaris





